Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2021

Air yang Bisa Digunakan Untuk Bersuci

 *KUN ALIMAN*  ( *KUliah siNgkat rAih iLmu Islam MANfat)* Serial : Fiqh Hari    : Selasa tgl       : 1 Shofar 1443 H Bab    : Air yang bisa digunakan untuk bersuci Bersuci memerlukan materi untuk bisa digunakan menghilangkan najis ataupun mengangkat hadats. Materi yang bisa mewujudkan hal itu adalah air. Dan tentunya bukan sembarang air yang bisa digunakan, akan tetapi air yang suci mensucikan atau disebut dengan *air thohur.*   _Air thohur_ adalah air yang zatnya suci dan bisa mensucikan lainnya dengan tidak berubah warna , rasa dan bau karena najis. Air thohur ini tetap atas sifat asalnya sebagaimana yang Alloh ciptakan baik itu yang turun dari langit seperti : air hujan, lelehan salju dan air embun. Atau yang mengalir di bumi seperti : air laut, air sumur atau mata air. Alloh berfirman dalam surat al anfal 11 وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً لِّيُطَهِّرَكُم بِهِ "dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit ...

Perjalanan Ruh Manusia Setelah Kematian

 *Perjalanan Ruh Manusia Setelah Kematian*  Dari Al-Barrak bin Azib radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, Kami pernah mengiringi jenazah orang anshar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sesampainya di kuburan, dan menunggu liang lahatnya dibenahi, Rasulullah duduk menghadap kiblat. Kamipun duduk di sekitar beliau dengan khusyu, seolah di kepala kami ada burung. Di tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada ranting, beliau tusukkan ke tanah kemudian beliau menengadah ke langit lalu beliau menunduk. Beliau ulang tiga kali. Kemudian beliau bersabda, استعيذوا بالله من عذاب القبر، مرتين، أو ثلاثا، (ثم قال: اللهم إني أعوذ بك من عذاب القبر) (ثلاثا) “Mintalah perlindungan kepada Allah dari adzab kubur.” Beliau ulangi dua atau tiga kali. Kemudian beliau berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari adzab kubur.” (tiga kali). Kemudian beliau menceritakan proses perjalanan ruh mukmin dan kafir. Sesungguhnya hamba yang beriman ketika hendak meninggalkan dunia dan me...

SEJARAH DAN KEUTAMAAN PUASA ASYURA

 *HARI ASYURA (10 MUHARRAM) ANTARA SUNNAH DAN BID’AH*  Oleh Ustadz Aris Munandar bin S.Ahmadi  *SEJARAH DAN KEUTAMAAN PUASA ASYURA*  Sesungguhnya hari Asyura (10 Muharram) meski merupkan hari bersejarah dan diagungkan, namun orang tidak boleh berbuat bid’ah di dalamnya. Adapun yang dituntunkan syariat kepada kita pada hari itu hanyalah berpuasa, dengan dijaga agar jangan sampai tasyabbuh dengan orang Yahudi.  Dari ’Aisyah Radhiyallahu ’anha, beliau berkata,  كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِى الْجَاهِلِيَّةِ ، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ  صلى الله عليه وسلم  يَصُومُهُ ، فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ   “Orang-orang Quraisy biasa berpuasa pada hari asyura di masa jahiliyyah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melakukannya pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.”[1]  قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْه...